Erwin Prasetyo

Erwin Prasetyo

UI Designer & Wordpress Expert from Indonesia

Mengikuti Metode apapun dalam menentukan Hilal, Kita harus bersama pemerintah

Banyak cara atau metode dalam menentukan hilal, dan mengikuti Metode apapun dalam menentukan Hilal, Kita harus bersama pemerintah. Karena islam menekankan persatuan dalam menetapkan hilal.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اسمعوا وأطيعوا فإنما عليكم ما حملتم وعليهم ما حملوا

Dengar dan taatlah (kepada penguasa). Karena yang jadi tanggungan kalian adalah yang wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka ada yang wajib bagi mereka” (HR. Muslim 1846)

Dan tentu saja hal ini sesuai dengan Kalamullah :

أطِيعُوا الله وأطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولى الأمْرِ مِنْكُمْ

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta ulil amri kalian” (QS. An Nisa: 59)

Penetapan Puasa

Sahabat Ibnu Umar berkata:

«تَرَائِى النَّاسُ الْهِلَالَ،» فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

Orang-orang melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Lalu beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud no. 2342, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Penetapan Ied

أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا، وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ

Ada seorang sambil menunggang kendaraan datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ia bersaksi bahwa telah melihat hilal di sore hari. Lalu Nabi memerintahkan orang-orang untuk berbuka dan memerintahkan besok paginya berangkat ke lapangan” (HR. At Tirmidzi no.1557, Abi Daud no.1157 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

 

Jadi bagi yang masih mengikuti ulama, ustadz, kyai , habib dan dsb yang menyelisihi sunnah nabi dalam hal ini perintah untuk mentaati keputusan pemerintah, semoga kalian sadar dan dimudahkan agar bisa mentaati Allah dan rasulnya dengan mudah. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama di jannahnya kelak.. aamiin

 

Yup posisi nabi muhammad shalallahu alaihi wasalam kala itu, selain sebagai nabi dan rasul Allah, tetapi beliau pada saat itu adalah juga sebagai pemerintah, yang mengayomi masyarakatnya dalam hal ini umat islam dan yang mengikuti syariat.

 

 

Cara memilih pemimpin dalam islam

Sebentar lagi Pemilu 2019 di Indonesia, Mungkin banyak dari kita yang belum tahu cara memilih pemimpin dalam islam. Apa yang saya tulis tentang cara memilih pemimpin dalam islam ditulis berdasarkan apa yang saya ingat dari apa yang telah saya ketahui setelah membaca siroh (sejarah) dan mendengar penjelasan ustadz ahlussunnah wal jamaah. Cara memilih pemimpin dalam islam yang terbaik yakni dikala islam dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin yakni generasi terbaik dalam islam.

Cara memilih pemimpin dalam islam secara garis besar bisa di jelaskan seperti berikut ini

  1.  Ditunjuk langsung oleh pemimpin sebelumnya. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam ketika menjelang wafatnya, ketika beliau sakit , beliau menunjuk Abu bakr ash-shidiq radhiallahu anhu menjadi imam sholat. Atas dasar itulah ketika Nabi shalallahu alaihi wasalam wafat, para shahabat Nabi, menunjuk Abu bakr sebagai Pemimpin.Setelah Abu bakr memimpin hingga menjelang wafatnya, beliau kemudian mewasiatkan agar pemimpin setelahnya adalah Umar bin khatthab radhiallahu anhu.
  2. Di Musyawarahkan oleh Ulama (Ahlul ilmi). Dimasa Umar bin Khatthab, berkumpulah sebagian sahabat yang kemudian di kenal sebagai Ahli syura yakni orang-orang yang berilmu dan kemudian bermusyawarah untuk memutuskan siapa nanti pengganti Umar bin khattab jika nanti beliau wafat, kemudian ditunjuklah beberapa kandidat diantaranya Utsman bin Affan, Ali bin abu thalib , Abdullah bin Umar bin Khathab (putra umar ibnu khattab) dan beberapa kandidat lainnya. Para kandidat ini dipilih BUKAN KARENA MEREKA MENCALONKAN DIRI tapi para ahli syura melihat keilmuan para kandidat tersebut dan kemampuannya dalam memimpin. Maka memang tidak diketahui seorang itu berilmu atau tidak, melainkan orang yang berilmu lah yang mengabarkan kepada kita.Dari sini kita bisa mengetahui cara memilih pemimpin dalam islam, bahwa mereka tidak melibatkan masyarakat karena secara umum, masyarakat tingkat keilmuannya terbatas, berbeda dengan Ahli syura karena mereka dimasa keislamannya selalu mendampingi rasulullah shalallahu alaihi wasalam.Ketika Umar sakit keras karena luka yang disebabkan oleh orang yang berusaha membunuhnya, pembunuhnya adalah budak yang beragama majusi (penyembah api), yang sekarang makam pembunuh umar ini dimuliakan oleh orang yang beragama syiah (Allahu musta’an). Kejadian ini terjadi di waktu sholat shubuh, ketika Umar menjadi imam dalam sholat shubuh, dalam upaya pembunuhan tersebut, wafat juga 9 orang shahabat yang mulia karena ketika orang majusi tersebut ingin kabur ia menebaskan pisau yang beracun ke orang disekitarnya, hingga pada akhirnya pembunuh tersebut akhirnya bisa ditangkap.Kembali ke pembahasan cara memilih pemimpin dalam islam, Umar mengisyaratkan kepada anaknya Abdullah bin Umar agar menggantikan posisinya, namun Abdullah serta merta menolak jabatan (catatan : Masya Allah, di jaman sekarang hal ini sudah jarang terjadi) kemudian Abdullah memberi solusi agar bisa memilih kandidat lain dari kandidat yang sudah di pilih oleh Ahli Syura. Yakni Utsman bin Affan.Utsman kemudian memimpin dan menaklukan dunia dibawah kepemimpinannya. Kemudian Utsman dibunuh oleh para pemberontak kala itu , mereka yang membunuh adalah orang-orang yang baru keislamannya dan tidak mengetahui keilmuan dan keutamaan utsman bin affan. Bisa dibilang mereka adalah orang-orang yang bodoh. Singkat kisah, setelah itu Ahlu syura menunjuk Ali bin Abi thalib radhiallahu anhu, karena secara urutan yang di musyawarahkan Ali yang akan menjadi pemimpin setelah utsman bin affan radhiallahu anhu. Setelah Ali memimpin dengan kepemimpinan yang terbaik, datang lagi para pemberontak, mereka kemudian dikenal sebagai khawarij yah kalau dimasa ini mirip dengan ISIS atau Al-Qaeda, Ali radhiallahu anhu dibunuh ketika hendak berangkat sholat shubuh. Setelah itu kepemimpinan yang kosong diisi oleh anak beliau yakni Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
  3. Diserahkan oleh pemerintah sebelumnya. Ketika Hasan memimpin, konflik sudah terjadi dikala itu antara Ali dan Muawiyah radhiallahu anhuma, keduanya berselisih dan berperang satu sama lain. Muawiyah kala itu menuntut balas atas pembunuh utsman bin affan , namun ketika itu Ali radhiallahu anhu sudah menjadi pemimpin yang sah, sehingga Ali menginginkan agar Muawiyah berbaiat (sumpah setia) dulu kepada Ali bin abu thalib radhiallahu anhu kemudian baru mencari siapa pembunuh utsman bin affan.Hasan radhiallahu anhu kemudian menjadi Pemimpin dan berperang dengan Muawiyah radhiallahu anhu, Posisi Hasan sebagai pemimpin yang sah, dan kala itu hampir menyudahi perlawanan Muawiyah radhiallahu anhu. Disaat itu datang salah satu shahabat Nabi yang membawakan hadits (secara makna) bahwa Nabi shalallahu alaihi wasalam mengabarkan bahwa Hasan akan mendamaikan kedua belah pihak. Ketika mendengar hadits tersebut Hasan kemudian menyerahkan kepemimpinannya kepada Muawiyah radhiallahu anhu.

 

Setelah itu banyak terjadi kejadian dalam upaya meraih kepemimpinan, pemberontakan dsb. Yang jelas secara syariat Nabi muhammad memerintahkan agar umat ini taat kepada pemimpin muslim apapun yang terjadi. Syariat tidak mengajarkan agar rakyat memilih siapa pemimpinnya, namun lebih untuk ketaatan kepada pemimpin yang ada. Memilih Pemimpin dilakukan oleh ulama.

Untuk lebih jelas dan lengkapnya silahkan membaca dan mendengar ceramah ustadz terutama tentang pembahasan kitab Aqidah Salaf wa ashabul Hadits. Yup, kepemimpinan dalam islam juga merupakan bagian dari Aqidah.

Kesimpulan:

  • Pemimpin boleh ditunjuk oleh pemimpin sebelumnya
  • Pemimpin dipilih oleh para ulama
  • Kepemimpinan boleh diserahkan oleh pemimpin sebelumnya
  • Menjadi pemimpin, bukanlah sebuah obsesi melainkan tanggung jawab yang besar oleh karena itu Abdullah bin Umar menolak jabatan tersebut
  • Tidak boleh merekomendasikan diri agar menjadi Pemimpin
  • Kewajiban rakyat ialah taat kepada pemimpin, bukan memilih pemimpinnya

Sumber rujukan :
– Kitab Aqidah salaf wa ashabul hadits karya Imam AshShabuni.
– Ceramah Ustadz ahlussunnah wal jama’ah

 

Allah tidak meng-adzab hambanya yang beribadah kepadanya, Namun Allah akan meng-adzab hamba-Nya yang menyelisihi sunnah Nabi-Nya

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Pernyataan ini muncul dari sahabat Nabi shalallahu alaihi wasalam yang mulia, yakni Muadz bin Jabal radhiallahu anhu

Allah tidak meng-adzab hambanya yang beribadah kepadanya, Namun Allah akan meng-adzab hamba-Nya yang menyelisihi sunnah Nabi-Nya

Disaat itu ada seorang yang memperbanyak sholat diwaktu setelah adzan shubuh dan sebelum iqamah, sholat sunnah yang di anjurkan ialah sholat sunnah fajar, yakni ‘hanya’ sebanyak dua rakaat.

Melihat kejadian ini Muadz bin Jabal menegur orang tersebut, kemudian orang tersebut menyangkal dan menjawab “Apakah Allah akan meng-adzab hambaNya karena beribadah kepadanya?”

kemudian Muadz bin jabal radhiallahu anhu menjawab

Allah tidak meng-adzab hambanya yang beribadah kepadanya, Namun Allah akan meng-adzab hamba-Nya yang menyelisihi sunnah Nabi-Nya

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Didengarkan dari (menit ke 14)

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Hari raya di hari Jum’at

Hari raya di hari Jum’at, Ada hal yang perlu kita ketahui bila Hari raya di hari Jum’at. Insya Allah pada tahun ini jika tidak ada halangan dan pemerintah akan menetapkan, Hari raya di hari Jum’at akan kita temui. Mari kita simak pertanyaan terkait Hari raya di hari Jum’at yang di tanyakan kepada ulama ahlussunnah wal jama’ah

—————————-

oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?

Jawab : Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.

Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali. (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)

Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Fatwa no. 2358

Pertanyaan : Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?

Jawab : Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.

(Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :

« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »

Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).” [1]

Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »

Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id). [2]

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.

Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :

« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”

Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`,Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Wakil Ketua: ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota: ‘Abdullah bin Ghudayyan, Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud.

Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :

Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.

Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan : Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.

Jawab : Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).

Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.

Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah. Wallahu Waliyyut Taufiq

(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)

Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :

Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :

« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).

adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :

Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….

Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.

Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.

Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).

Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb – Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

[1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 981. (pent)

[2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 983.

Sumber : Maha’d As-Salafy Jember

disalin dari sini

Tanda mendapatkan Lailatul Qadr

Apa sih tanda mendapatkan lailatul qadr ? pertanyaan ini pasti pernah terbetik di benak kita , apa tanda mendapatkan lailatul qadr

Berikut saya salinkan artikel mengenai tanda mendapatkan lailatul qadr

Pertanyaan :

Bagaimana seseorang muslim bisa mengetahui bahwa dia telah menepati Lailatul Qadr, dengan upaya dia mencari pada malam-malam yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Al-‘Allamah al-Albani rahimahullah menjawab :

“Itu merupakan perkara yang dirasakan oleh hati, yang dirasakan oleh setiap orang yang diberi nikmat oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala kepadanya berupa bisa melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr. Karena seseorang pada malam-malam (10 terakhir) tersebut berkosentrasi untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berdzikir dan shalat. Maka Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan kepada sebagian hamba-Nya dengan perasaan yang tidak seperti biasanya. Sampai-sampai orang-orang shalih pun, dia tidak merasakan pada semua waktunya.

Perasaan inilah yang mungkin untuk dijadikan sandaran, bahwa orangnya melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr.

Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah pertanyaan yang menunjukkan bahwa seseorang merasakan bisa melihat Lailatul Qadr merupakan suatu yang memungkinkan. Yaitu tatkala ‘Aisyah menyampaikan pertanyaannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Rasulullah, Apabila aku melihat Lailatul Qadr maka apa yang seharusnya aku ucapkan?”

Nabi menjawab, “Ucapkanlah :

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau pema’af, suka pada ma’af, maka ma’afkanlah aku.”

Pada hadits ini ada dua faidah,

Pertama, Bahwa seorang muslim memungkinkan untuk bisa merasakan secara pribadi bahwa dirinya telah mendapatkan Lailatul Qadr.

Kedua, Bahwa seorang muslim apabila merasakan itu (bahwa dirinya mendapatkan Lailatul Qadr) maka do’a terbaik yang dia ucapkan adalah do’a tersebut.

Dalam kesempatan ini, dalam kitab kami at-Targhib – pada sebagian durus terakhir – terdapat faidah : bahwa sesuatu terbaik yang diminta oleh seorang manusia kepada Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala adalah : permohonan ma’af dan ‘afiyah (penjagaan) di dunia dan di akhirat.

Ya, pada Lailatul Qadr terdapat beberapa tanda dan alamat yang tampak. Namun tanda-tanda tersebut bisa jadi tidak semua orang yang mengetahui Lailatul Qadr tersebut bisa melihat semua tanda-tanda tersebut. Karena tanda-tanda tersebut sebagiannya berkaitan dengan cuaca global di luar. Misalnya, tandanya adalah malam tersebut tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, namun pertengahan. Bisa jadi seseorang berada dalam cuaca yang tidak memungkinkan bisa merasakan kondisi cuaca alami di negeri tersebut. demikian pula ada pula tanda-tanda yang terjadi setelah berlalunya Lailatul Qadr tersebut. Tanda-tanda tersebut terdapat pada pagi harinya, ketika matahari terbit. Yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa Lailatul Qadr pagi harinya matahari terbit seperti bejana – seperi bulan – tidak ada sinar yang menyilaukan. Demikianlah kondisi matahari ketika terbit pada pagi hari Lailatul Qadr. Tanda ini bisa jadi terlihat oleh sebagain orang shalih, yang memiliki perhatian untuk mengamati tanda-tanda tersebut pada banyak Lailatul Qadr.

Yang penting, bagi seorang yang beribadah, tidak perlu berpegang pada tampaknya tanda-tanda seperti itu. Karena tampaknya tanda-tanda tersebut bersifat umum, yakni itu pembawaan cuaca. Tidak semua orang yang berada pada cuaca tersebut bisa melihat Lailatul Qadr. Yakni bisa jadi, seorang yang berada pada tingkat kejernihan jiwa, pada salah satu kesempatan dari malam yang penuh barakah tersebut, yaitu Allah dengan rahmat dan fadhilah-Nya menampakkan padanya, mengilhamkan dan menguatkan dengan tanda-tanda di atas, dan tanda-tanda lainnya.

Jadi, tanda-tanda yang tampak itu, tidak menunjukkan bahwa siapa yang menyaksikannya dan mengalaminya berarti dia telah telah melihat (mendapatkan) Lailatul Qadr. Ini permasalahan yang jelas.

Namun, satu kondisi yang seseorang mendapati dalam dirinya kejernihan ruhiyyah dan perasaan melihat (mendapati) Lailatul Qadr, dia mengarahkan kepada Allah permintaan (do’a)nya sebagaimana ketentuan syari’at. Inilah sisi yang semestinya kita dengungkan dan kita pentingkan. Semoga Allah mengkarunikan kepada kita malam tersebut.

Dari kaset : Muhadharat Mutafarriqah  no. 360

sumber

Menyambut Bulan Ramadan

Menyambut bulan ramadan, ramadan kan menjelang ada beberapa cara menyambut bulan ramadan.

DIANTARA CARA MENYAMBUT BULAN RAMADAN

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه و سلم – : ” لا تقدموا رمضان بصوم يوم أو يومين إلا رجل كان يصوم صوما فليصمه !”
رواه مسلم في كتاب الصيام ( 21 ) …

Dari sahabat Abu Huroriroh radhiyallohu anhu berkata : Rosululloh – sholallahu alaihi wa sallam – bersabda :
” Jangan kalian berpuasa sebelum bulan Ramadan satu hari atau dua hari [ pent- untuk menyambut bulan Ramadan ] kecuali seorang yang terbiasa puasa maka berpuasalah! ”
Riwayat Muslim di dalam kitab Puasa, no 21.

Asy syaikh Abdullah Alu Basam – rahimallohullah – berkata :
” Allah subhanahu wa ta’ala ingin membedakan antara ibadah dengan adat dan antara ibadah yang wajib dengan sunnah agar ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya. “

 

Beliau melanjutkan :

” Oleh karena itu, Nabi melarang berpuasa satu hari, dua hari, atau semisalnya sebelum Bulan Ramadhan dalam rangka mempersiapkan diri untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Kecuali orang yang memiliki kebiasaan berpuasa seperti puasa hari kamis, hari senin, mengqadha ( puasa ramadhan tahun lalu ) karena waktu yang sempit, atau nadzar yang wajib ditunaikan maka berpuasalah karena hal tersebut memiliki sebab. berbeda halnya dengan puasa sunnah mutlak. Paling tidak hukumnya makruh. “

Dinukilkan dari kitab TAISIRUL ALAM SYARAH UMDATUL AHKAM, hal. 215\01

 

sumber

Kamu akan di adzab karena kamu menyelisihi sunnah nabi

Kamu akan di adzab karena kamu menyelisihi sunnah nabi, Salah satu metode mengamalkan Islam,

Muadz bin jabal radhiallahu anhu mengatakan …

..Kamu tidak akan di adzab karena memperbanyak sholat , namun  kamu akan di adzab karena kamu menyelisihi sunnah nabi…

Kejadian ini terjadi ketika Muadz melihat ada seorang yang memperbanyak sholat sunnah fajr diantara waktu adzan, sebelum iqamah. Muadz menegurnya. Karena secara hal yang di contohkan Nabi shalallahu alaihi wasalam adalah sholat sunnah fajr hanya sebanyak 2 rakaat

Orang : Apakah Saya akan di adzab Allah Karena memperbanyak sholat?
Muadz : Kamu tidak akan di adzab karena memperbanyak sholat , namun  kamu akan di adzab karena kamu menyelisihi sunnah nabi

 

dikutip dari tanya jawab bersama ustadz luqman baabduh hafidzahullahu

Apa itu Hikmah

Tahukah Kamu apa itu hikmah? sebagian pihak memahaminya hikmah itu adalah sifat lemah lembut. Pernyataaan bahwa hikmah adalah hanya terkait sifat lemah lembut adalah kurang tepat.

Hikmah itu adalah ketepatan seorang untuk bertindak lembut dan kapan harus tegas/keras terhadap suatu hal.

Pengertian Hikmah mirip dengan Adil, namun Kalau Adil adalah meletakan sesuatu pada tempatnya (lebih umum dan luas) , maka hikmah cenderung di batasi pada dua sifat yakni sifat lembut dan sifat tegas. Maka kita sering menemukan pernyataan bahwa kita harus Adil dan Hikmah.

Tulisan ini disarikan dari beberapa penjelasan asatidzah (para ustadz) yang membawakan perkataan ulama pada setiap kajian ilmiah.