Urusan Keluarga adalah satu dari beberapa hal yang menjadi alasan bagi seseorang untuk menghindari suatu pertemuan. Tulisan tentang persahabatan biasanya ada unsur sentimentil, begitu pula tulisan saya kali ini walaupun sejujurnya saya pun pernah menjadikan urusan keluarga untuk tidak masuk kerja sewaktu masih kerja di perusahaan.

Urusan Keluarga
sumber gambar https://unsplash.com/photos/vdx5hPQhXFk

 

Urusan Keluarga

Diumur saya yang telah 30tahun lebih ini dimana saya dan beberapa teman sudah berkeluarga, urusan keluarga menjadi suatu alasan yang muncul dimana hal ini ternyata bisa merubah suatu persahabatan, saya tidak menggunakan diksi merusak karena itu terlalu tajam dan bisa jadi orang yang kita anggap sahabat itu ternyata tidak menganggap kita sebagai sahabatnya dan itu adalah watak asli dia, dimana dia ternyata menganggap kita sebagai teman biasa saja.

 

Ada seorang sahabat sewaktu di SMU (Sekolah Menengah Umum) yang ketika kita lulus SMU kita jarang bertemu, komunikasi juga sempat terputus karena pada kala itu teknologi masih mahal jadi kita sulit untuk berkomunikasi. Facebook mulai muncul dan tidak dipungkiri kita mulai terhubung kembali. 6 tahun setelah lulus SMU saya pun akhirnya menikah, kehidupan saya pun saya anggap biasa saja dan saya tetap bersahabat dengan sahabat saya. Namun persahabatan itu mulai berubah ketika sahabat saya mulai menikah. Ketika saya ingin bertemu untuk mengobrol , entah mengapa ia terlihat menghindari.

 

Akhir pekan ia beralasan itu adalah waktu untuk keluarga dan tidak bisa bertemu, nah tiba suatu waktu ada libur nasional ditengah pekan. Disaat itu saya anggap itu adalah waktu yang tidak mengganggu dia, dan saya menghubungi ternyata muncul sebuah kata yang saya suka tapi saya benci pada saat itu , “Saya memprioritaskan keluarga” . itulah awal saya mulai benci alasan Urusan Keluarga. Tidak lama setelah itu saya tinggalkan sahabat saya tersebut.

 

Tentu tidak semua sahabat saya seperti itu, ada beberapa yang tidak berubah namun itu bisa dihitung dengan jari.

Nah ketika kisah diatas diawali dengan komunikasi menjadi hambatan, ternyata ada teman kantor yang saya anggap sahabat yang saya kenal di tahun 2018 menjadikan alasan Urusan Keluarga untuk ‘menghindari’ untuk bertemu. Saya mulai merasakannya ketika ia memiliki anak, kok sulit sekali menghubungi dia ketika akhir pekan dan ingin bertemu di akhir pekan.

 

Saya merasakan hal yang berbeda mungkin dengan sahabat saya , saya anggap keluarga itu adalah pelengkap hidup saya dan saya tidak perlu merubah beberapa sikap dan kebiasaan yang sudah saya lakukan sejak dulu. Akhir pekan saya tetap Free begitupun hari biasa. Karena toh setiap hari pun saya masih bisa bertemu dengan istri dan anak saya, apabila saya beberapa jam berpisah dari keluarga ya tidak masalah. Tapi ya mungkin saya terlalu naif , setiap dari kita akan melanjutkan kehidupan kita.

 

Selamat jalan sahabatku, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali